Nazilatul Khusna adalah guru di SD Baitussalam 01 Pekalongan yang menyampaikan
materi tentang “Membangun Budaya Literasi di Sekolah. “Tahun 2018 yang lalu, di
sekolah saya baru memulai kurikulum 2013. Tetapi dengan adanya kurikulum
tersebut, malah menjadi keresahan bagi guru. Terlebih guru kelas satu dan
empat, karena di dalam kurikulum 2013, terdapat program yang mewajibkan anak
setiap harinya harus membaca selama 15 menit sebelum pelajaran dimulai. Okey,
jika membaca 15 menit diterapkan di kelas empat, ya memungkinkan saja, karena
murid-murid sudah bisa membaca dengan lancar. Namun, jika hal itu diterapkan di
kelas satu, bagaimana? Susah! Apalagi untuk murid yang belum bisa membaca.
Boro-boro membaca, hampir keseluruhan murid belum hafal huruf. Duh, bagaimana
coba?!”, paparnya.
Peserta mudik sangat antusias mendengarkan pemaparan guru
Nazil tentang keresahannya dalam menghadapi kurikulum K13. Mengenai program
literasi, guru Nazil tidak menggembar-gemborkan apa itu literasi kepada
murid-muridnya. Tetapi, sebisa mungkin beliau mencoba untuk memperkenalkan
program literasi di sekolah. “Apa sih literasi itu? Apakah hanya sekedar
membaca? Apakah dengan membaca 15 menit sebelum memulai pelajaran akan
berdampak pada murid?” Guru Nazil memulai materinya dengan bertanya tentang
literasi dan membuka sudut pandang peserta mudik tentang literasi.
“Tantangan terbesar di kelas bagi saya adalah menjelaskan
materi. Terlebih masih ada beberapa murid kelas dua belum lancar membaca, dan
juga ada yang malas sekali menulis. Saya sering kewalahan ketika menyampaikan
materi. Suatu hari ketika pelajaran bahasa Indonesia, saya mengajak murid-murid
mengunjungi perpustakaan. Kemudian saya menyuruh mereka mengambil buku cerita,
lalu menugaskan untuk membuat rangkuman terhapad apa yang sudah mereka baca.
Sebelumnya saya telah menjelaskan berkali-kali materinya, tetapi setelah saya
menyuruh mereka demikian, hasilnya nihil alias gagal. Hanya beberapa murid saja
yang paham. Dari situlah saya mulai berpikir. Aduh bagaimana ya? Apakah ada
yang salah dengan cara saya? Atau jangan-jangan macam literasi itu banyak”,
kata guru Nazil.
Guru Nazil melanjutkan ceritanya: “Saya mencoba menelusuri dengan mengikuti temu pendidik di KGB Pekalongan dan bertanya-tanya kepada guru-guru saya juga. Ternyata, literasi itu sangat luas. Makna literasi sesungguhnya adalah belajar. Literasi tidak hanya sekedar membaca, menulis pun termasuk literasi. Nyatanya kemampuan membaca dan kemampuan menulis sangat erat hubungannya. Membaca tanpa menulis, maka akan mengakibatkan lupa. Sedangkan menulis tanpa membaca, maka proses menuliskannya tidak akan berkembang”.
Melalui ilmu yang diperolehnya guru Nazil langsung mencoba
mengaitkan antara kemampuan membaca dan kemampuan menulis murid. Dalam materi
yang disampaikannya, guru Nazil bercerita tentang salah satu siswanya yang
bernama Tiara: “Tiara adalah anak pendiam dan selalu menjadi bahan perbincangan
anak-anak karena nilainya selalu saja rendah. Memang, kemampuannya dari awal
kelas satu berada di bawah rata-rata temantemannya. Namun, Alhamdulilah dia
bersikap biasa-biasa saja atau cuek ketika diejek temannya. Setelah kelas dua,
saya mengamati bahwa dia sudah mengalami perubahan dalam hal membaca. Kemampuan
membacanya hingga sekarang cukup baik. Akan tetapi, ketika disuruh menulis dia
belum sempurna, walaupun dia hanya menyalin tulisan saya di papan tulis. Mengapa
masih saja salah-salah? Ini nih menjadi bagian penting dari literasi. Korelasi
antara membaca dan menulis harus diperhatikan”.
Guru Nazil berusaha
untuk menyelesaikan permasalahan mengenai miskonsepsi literasi selama ini.
Beliau melanjutkan ceritanya: “Suatu ketika, mata pelajaran bahasa Indonesia
membahas tentang puisi. Setelah selesai menjelaskan dan memberi beberapa contoh
puisi, saya mencoba memberikan tugas kepada murid-murid untuk membuat puisi
bertema ibu. Membebaskan imajinasi mereka sendiri. Saya berjalan dari meja ke
meja guna melihat kreasi murid-murid. Beberapa murid merasa kebingungan
menuliskan hingga saya pun akhirnya membantu menyebutkan katakata. Akan tetapi,
beberapa murid yang lain ada pula yang berusaha sendiri, termasuk Tiara (anak
yang mampu membaca tapi tidak mampu menulis dengan benar). Hasil karya Tiara
membuat saya takjub. Berikut karyanya:
Kemudian guru Nazil mengakhiri ceritanya: “Ternyata dibalik
kekurangan Tiara yang demikian, nyatanya dia mampu menuliskan kata-kata mesra
untuk ibunya. Disitulah saya tersadar bahwa kemungkinan daya mengarangnya cukup
baik. Dia mampu berimajinasi. Nah, itu merupakan proses literasi lhoo...!!
Literasi bukan sekedar memahami huruf abjad. Tapi proses merangkai kata pun
bisa”.
Guru Nazil pun menutup pembahasannya dengan memberikan
sebuah kalimat bermakna: “Dunia sekarang cepat sekali berubah. Jika saya tidak
MEMULAI, maka saya akan TERTINGGAL”.
Peserta temu pendidik sangat antusias mendengarkan
pengalaman guru Nazil dalam melaksanakan praktik pembelajaran di kelas.
Selanjutnya, materi disampaikan oleh guru Zidnil Karomah yang merupakan guru di
SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan. Guru Zidnil menyampaikan materi “Literasi
Asik, Ajak Anak Aktif”.
Literasi sering dihubungkan dengan kegiatan membaca.
Membaca merupakan kata kerja yang sering dipasangkan dengan objek berupa buku.
Apakah literasi itu lingkupnya hanya kegiatan membaca buku? tentu semua sepakat
jawabannya TIDAK. Ketika program literasi di sekolah hanya terpusat pada
aktifitas siswa untuk membaca 15 menit diawal pembelajaran saja, kemudian
mencatat halaman buku yang telah selesai mereka baca di kartu baca (literasi),
maka kegiatan tersebut lama-lama akan membosankan. Guru akan menjumpai siswa
yang lebih senang bercerita dengan teman-temannya dibandingkan membaca buku
cerita mereka.
Bagaimana usaha guru sebagai pendidik untuk membuat
kegiatan literasi yang asik, yang bisa mengajak mereka untuk aktif? Guru Zidnil
menjawab: “ Salah satu usaha yang saya lakukan adalah mengajak siswa untuk
membaca tetapi melalui video. Video tersebut berupa cerita pendek (kartun
animasi) yang ada subtitlenya dalam bahasa Inggris. Saya mendapatkan video
tersebut dari youtube. Banyak sekali jenis videonya, oleh karena itu kita juga
harus menyesuaikan dengan tema atau materi yang akan kita sampaikan”.
Kemudian guru Zidnil menampilkan video dan mengatakan: “Saya menggunakan video yang berjudul “The Old Lion and the Fox” (https;//youtu.be/kG3IWRYw270), ketika saya harus mengajarkan materi tentang hewan (animals). Pertama, saya putarkan full video tersebut. Siswa tampak antusias mengamati dan mendengar cerita dari video yang diputar. Setelah itu, saya ajak mereka untuk berdiskusi tentang isi ceritanya, kirakira tentang apa?”
Diawal sebagian jawaban siswa adalah hasil dari pengamatan
gambar videonya saja, yaitu siswa belum memahami arti dari bacaan cerita bahasa
inggris tersebut. Dari informasi yang siswa dapatkan, semua ditampung untuk
selanjutnya dirangkai bersama-sama menjadi cerita yang utuh. Termasuk
didalamnya mempelajari beberapa kosakata dalam bahasa Inggris (nama-nama hewan)
yang kemudian diterjemahkan kedalam bahasa Indonesia. Anak-anak menjadi aktif
bertanya dan menjawab pertanyaan yang diajukan guru.
Kemudian, video tersebut diputar lagi dengan catatan siswa
ikut membaca subtitle bahasa Inggris yang ada di bawahnya. Siswa aktif membaca
dan menirukan teks cerita yang mereka lihat. Untuk membuat siswa lebih antusias
lagi, guru Zidnil mengajak siswanya untuk membaca dengan mengubah suara
tokoh-tokoh yang ada di video. Misalnya untuk suara singa (lion) mereka membaca dialognya dengan suara besar, seperti suara
raksasa, sedangkan untuk rubah (fox),
dibaca dengan suara kecil, seperti suara anak kecil, dll. Ternyata dengan cara
ini, kegiatan literasi menjadi lebih asyik dan mengajak siswa aktif. Siswa bisa
belajar membaca bahasa Inggris dengan pelafalan (pronounciation) yang benar, mengenal kosakata baru dengan cara
menganalisanya lewat tayangan gambar video dan mengolah informasi serta dapat
menceritakannya kembali.
Pada kesempatan yang lain, untuk mengajarkan percakapan (conversation) dalam bahasa inggris guru
Zidnil memanfaatkan video yang didownload dari youtube. Guru Zidnil menggunakan
video “May I take your order?” (https://youtu.be/49QFHWIky-k)
untuk mengajarkan cara menanyakan pesanan makanan dan cara memesan makanan.
Dalam pembelajarannya guru Zidnil dan siswa belajar bermain peran (role play) berdasarkan video tersebut. Dialog
masing-masing tokoh yang diperankan juga diubah suaranya. Ada yang menjadi
suara anak kecil, orang dewasa laki-laki atau perempuan, bahkan suara kakek
atau nenek. Setelah bermain peran, kegiatan selanjutnya adalah menganalisis
bagaimana cara meminta atau memberi barang, kosa kata baru apa saja yang kita
dapat, dsb.
Setelah siswa meniru contoh percakapan yang ada di video,
mereka berkolaborasi dengan temannya untuk bermain peran menjadi penjual dan
pembeli. Mereka juga bisa mengganti objek benda/ makanan/ minuman yang akan
diperjual belikan. Sebagai tugas praktik untuk kelas 5 dan kelas 6, terkadang
guru Zidnil meminta siswa untuk mendokumentasikan (bentuk video) tugas bermain
peran (role play) tersebut di rumah.
Kemudian mereka mengirimkan hasilnya untuk penilaian praktik. Refleksi dari
kegiatan tersebut siswa senang karena hobi mereka yang sering membuat video
seperti tik tok, ngevlog, mengedit foto dan video bisa disalurkan lewat
penugasan seperti yang di design guru Zidnil.
Untuk tingkat kelas
1 dan 2, kegiatan literasinya lebih sering dikemas dalam bentuk lagu. Jika
memungkinkan dengan menambahi gerakan sederhana (body language) untuk mendukung pesan dari lagu tersebut. Guru
Zidnil bernyanyi dan menari bersama. Kegiatan itu pun dilakukan bersama dalam
kegiatan temu pendidik kali ini. Suasana menjadi pecah dan terlihat
ekspresi bahagia dari peserta mudik yang
hadir.
Pembahasan dari guru Zidnil mengenai literasi ditutup
dengan melalui sebuah pesan: “Prinsip saya dalam mengajar jika kita ingin anak
kita aktif, kita juga harus aktif; jika kita ingin mereka percaya diri, maka
kita juga harus percaya diri di depan mereka, dst. Saya tidak malu, ketika saya
harus bercerita/ berperan sebagai nenek-nenek atau anak kecil didepan mereka,
dsb. Because
A teacher is a role model for the students. Mendidik mereka sesuai
zamannya akan memudahkan kita untuk mendampingi mereka belajar”.
Setelah kedua
narasumber menyampaikan materinya, kegiatan selanjutnya adalah bermain boardgame bersama Pak Nuno. Guru-guru
mempraktikan beberapa boardgame dan
diajak untuk memahami makna atau pesan yang dapat diambil dari bermain beberapa
boardgame. Kemudian, Pak Nuno
menceritakan pengalaman rekannya bermain boardgame
“Kecoa Attack” bersama
anak-anaknya. Saat itu, Pak Nuno mendapatkan kiriman video temannya sedang
bermain boargame tersebut.
Salah satu aturan dalam permainan tersebut adalah jika
pemain berhasil menangkap kecoa, maka pemain tersebut mendapat pelukan dari
pemain lainnya. Temannya Pak Nuno, pada saat bermain boardgame tersebut, beberapa kali berhasil menangkap kecoa,
sehingga dia dapat pelukan dari pemain lain, yaitu anak-anaknya. Anaknya ada
yang masih SMP, dan moment itu adalah kali pertamanya sang Ayah mendapatkan
pelukan dari anaknya, setelah sekian lama tidak memeluknya. Karena ketika
beranjak remaja atau sudah dewasa, biasanya sudah jarang memeluk orang tuanya
atau dipeluk orang tuanya, karena merasa bukan anakanak lagi. Suasana mudik
pun, tiba-tiba hening.
Kegiatan terakhir adalah refleksi. Beberapa refleksi kegiatan mudik ke-23 ini
diantaranya bahwa melalui video dan bermain boardgames,
anak dapat mengembangkan kemampuan bahasa dan belajar tentang kekompakan dalam
menyelesaikan suatu permasalahan. Selain itu, materi-materi yang disampaikan
bermanfaat untuk dipraktikan dalam pembelajaran di kelas dengan memodifikasinya
sesuai dengan kebutuhan siswa, karakter siswa, materi yang disampaikan,
sehingga pembelajaran menjadi lebih bermakna. Setelah refleksi, seluruh peserta
berfoto bersama di bawah langit yang cerah, disaat gerimis pagi mulai
menghilang.
Temu Pendidik 23
Tema : Kegiatan Literasi Bermakna
Hari/Tanggal
: Minggu, 17 Maret 2019
Lokasi
: SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan
Narasumber:
Nazila
Khusna (SD Islam Baitussalam 01 Pekalongan)
Zidnil
Karomah (SD Muhammadiyah 02 Bendan Pekalongan)
Moderator dan Refleksi:
Dina
Marta Aulianingrum (SMK N 1 Kedungwuni)
Reporter:
Wahyu
Hidayat (SMA Negeri 2 Pekalongan )




Komentar
Posting Komentar