Melalui kolaborasi dengan MTs Nurul Islam KGB Pekalongan berbagi praktik yang menarik untuk diterapkan dikelas. Hal ini dimaksudkan untuk menciptakan inovasi dalam proses belajar.
Siang itu langit
terlihat sedikit mendung. Nampak beberapa guru yang tetap semangat duduk
melingkar di ruang perpustakaan MTs Nurul Islam Krapyak Pekalongan. Mereka saling
bertukar cerita, mulai dari rekan guru yang baru pertama kali mengikuti TPD KGB
Pekalongan hingga yang beberapakali tetap setia mengikuti. Kehangatan begitu terasa
saat kepala madrasah menyambut para guru dengan senyum ramah.
Jika biasanya KGB
Pekalongan mengadakan agenda harus mencari tempat terlebih dahulu, namun kali
ini MTs Nurul Islam justru mengajak KGB Pekalongan berkolaborasi untuk
membangkitkan gairah guru dalam mengajar sehingga tercipta inovasi dalam
memberi ilmu kepada muridnya. Sebagaimana ditegaskan oleh Guru Nikmah selaku
kepala Madrasah bahwa dengan adanya TPD ini beliau mengharapkan agar guru-guru di MTs Nurul
Islam dan guru lainya dapat menciptakan inovasi dalam proses pembelajaran.
Kegiatan dibuka
oleh guru Rayinda. Sebagai pembuka ia berbagi tentang Memahami Anak untuk
Merancang Strategi Membaca. Banyak yang tertegun dengan apa yang Guru Rayinda
paparkan. Bahwasanya mengajarkan anak bukan hanya sekedar megenali huruf namun
juga memepertimbangan tahap perkembangan anak. Terutama saat anak memasuki golden
age dimana daya tangkap sangat baik jika dimanfaatkan untuk mengingat
berbagai gambar atau bentuk literasi lain yang dapat membantu anak mengenali
lingkungan. Selain itu, wanita berkacamata ini juga memutarkan video yang
menjadikan peserta TPD mengerti bahwa dalam tahap membaca terdapat tahapan phoenemic
awarness (kesadaran fonemik). Dalam video tersebut anak-anak diajak
mengenali benda-benda disekitar mereka dan melafalkan serta membedakanya dengan
bunyi huruf lain. Diakhir pemaparanya Guru Rayinda mengungkapkan bahwa merancang
strategi membaca pada anak sangat penting karena kadang anak dituntut untuk mengerti
makna suatu kata padahal pada tahapan tersebut sebenarnya ia belum mampu. Nah,
sebagai guru dan orangtua tentu materi ini menjadi bahasan yang sangat menarik
karena dapat dipraktikan langsung pada anak-anak dirumah.
Sesi selanjutnya
diisi oleh Guru Zinat. Ia menyampaikan materi mengenai Posisi Tempat Duduk
Mempengaruhi Prestasi. Pada sesi ini peserta diajak untuk keluar kelas dan
membentuk lingkaran besar. Lalu mereka berkelompok sesuai dengan urutan bulan
dan tanggal lahir tanpa menggunakan aba-aba. Rona wajah ceria menghiasai wajah
para peserta. Keseruan tak hanya berhenti disitu, guru yang mengampu mata
pelajaran Sistem Kebudayaan Islam ini juga mengajak peserta untuk membuat janji
pada jam 3, 6, 9 dan 12. Dalam satu waktu peserta hanya boleh membuat janji dengan
1 orang. Game tersebut berhasil membuat guru-guru tersenyum lebar
Ia menyampaikan bahwa game semacam ini
sering ia lakukan untuk membuat murid tidak jenuh dalam belajar. Apalagi, ia
mengampu mata pelajaran SKI yang notabene menjadi momok bahwa mata
pelajaran tersebut menjenuhkan karena bahan bacaan yang panjang. Tidak lupa, ia
juga membagikan materi mengenai pola tempat duduk yang memanusiakan hubungan.
Sehingga murid belajar lebih antusias serta hubungan antara guru dan murid juga
terjalin hangat. Menurutnya, posisi tempat duduk yang monotan juga memberikan
efek bosan dan murid cenderung berkelompok karena kurangnya interaksi antar
murid lain yang duduk tidak berdekatan.
Sebagai materi pamungkas,
guru Najib membagikan materi Desain Grafis untuk Komunikasi. Ternyata, melalui
komunnikasi visual menjadikan murid tertarik terhadap materi yang disampaikan.
Selama ini kita hanya terpaut pada teks dibuku saja tanpa menyajikan materi
agar lebih menarik bagi murid. Konten visual juga lebih banyak diproses 60.00
kali lebih cepat dari konten teks selain itu dengan memadu-padankan warna
menjadikan materi lebih terlihat menarik untuk dilihat.
Jika biasanya
desain grafis dibuat menggunakan corel draw atau photoshop yang
terlihat rumit dan tidak semua orang mengerti, Guru Najib justru membongkar
stigma tersebut. Dengan menggunakan smartphone kita bisa membuat desain
grafis yang menarik. Kali ini ia mengajak rekan guru menggunakan aplikasi canva
yang sangat simpel dan mudah digunakan. Beberapa peserta terlihat menikmati
saat jari tanganya mulai memilah backgound serta font teks yang
akan digunakan. Hasil desain yang dibuatpun terlihat menarik dan menjadikan candu
untuk mencobanya kembali.
Acara ditutup
dengan refleksi. Guru Watik mengungkapkan bahwa ia sangat terkesan dengan acara
ini dan ingin mempraktikanya setelah pulang dari MTs Nurul Islam. Selain
diterapkan pada murid ia juga ingin mempraktikan pada anaknya dirumah.
Komentar
Posting Komentar