Minggu, 13/02/22 – Komunitas Guru Belajar
Pekalongan mengadakan temu pendidik daerah ke 64 di SMPN 4 Pekalongan. Pada
temu pendidik daerah ke 64, membahas tentang merdeka belajar di bidang industri
dan wirausaha yang disampaikan oleh Guru Edy dari SMK Muhammadiyah Bligo dan
Guru Alan dari SMKN 1 Karangdadap.
Mengawali acara, dibuka dengan ice breaking ketje
dari Guru Ipin untuk menambah semangat belajar teman-teman guru yang hadir.
Setelah beberapa menit kemudian tibalah acara inti yaitu mendengarkan praktik
baik pembelajaran merdeka belajar dari dua narasumber yang luar biasa.
Pertama, dibawakan oleh Guru Edy dengan tema “Pembelajaran Problem Based Learning kolaborasi dengan Pembelajaran PDCA Industry.” Guru Edy bercerita bahwa ketika memulai pembelajaran di kelas, ia dianggap aneh oleh guru-guru lain karena memberi cara belajar yang berbeda yaitu dengan melakukan pemanasan terlebih dahulu lewat video. Hal itu dilakukannya agar murid-murid memiliki fisik yang kuat seperti salah satu syarat memasuki perusahaan yaitu mempunyai jasmani yang sehat.
Guru Edy sering melakukan pemanasan tersebut sebelum pembelajaran dimulai, hingga seiring berjalannya waktu diikuti oleh kelas-kelas lain. Setelah selesai pemanasan, Guru Edy mengawali pembelajaran dengan mengajak murid-murid untuk mengamati sebuah masalah tentang motor yang mogok walaupun bensin masih penuh. Hal ini bertujuan agar murid-murid mampu memahami literasi.
Kenapa memilih pembelajaran literasi? Karena Guru Edy mengalami keresahan bahwa murid-murid pada tingkat SMK tidak menyukai literasi seperti membaca buku, dan lain-lain. Selain itu, Guru Edy pun memadukan pembelajaran tersebut dengan profil pelajar Pancasila dan Pelajar Muhammadiyah (Beriman, Bertakwa kepada Tuhan YME dan Berakhlak Mulia, Mandiri, Bernalar Kritis, Gotong Royong, Kebhinekaan Global serta Kreatif).
Kemudian Guru Edy membentuk beberapa kelompok supaya mereka berdiskusi untuk memecahkan permasalahan itu. Guru Edy memberikan kebebasan dalam mencari jawaban atas permasalahan tersebut. Murid dapat mencari melalui google, youtube ataupun buku-buku yang telah disediakan. Beberapa menit berlalu, akhirnya setiap kelompok memberikan jawaban bahwa penyebab motor mogok walaupun bensin penuh adalah pada sistem pengapian motor yang tidak berfungsi. Setelah mengetahui permasalahan yang terjadi, mereka melakukan langkah perbaikan agar mesin motor tersebut dapat berkerja dengan normal.
Poin penting dalam pembelajaran Guru Edy adalah murid-murid dapat
belajar menganalisa masalah, menemukan solusi dengan caranya sendiri, gotong
royong dalam memecahkan masalah, melatih kekompakkan, menambah wawasan
literasinya serta memahami arti literasi sesungguhnya yaitu sumber belajar.
Kedua, dibawakan oleh Guru Alan dari SMKN 1 Karangdadap
dengan tema “Merdeka Berwirausaha”. Guru Alan bercerita tentang kondisi awal
saat pembelajaran yang telah lalu bersama murid-muridnya, kemudian bersepakat
untuk melakukan refleksi dengan mengajukan pertanyaan,
“Adakah yang ingin memberikan pendapat terkait
kondisi pembelajaran PKK sebelumnya?” Murid-murid pun menjawabnya beragam.
“Membosankan Pak, susah memahami materi melalui
teks yang dikirim lewat WA, dan tidak fokus Pak.” Melihat jawaban tersebut,
Guru Alan kembali bertanya.
“Manfaat apa yang ingin kalian rasakan atau alami
setelah mengikuti pelajaran PKK?”
“Agar bisa berwirausaha, Pak – bisa membuat produk,
Pak – bisa promosi dan menjual barang, Pak – lebih berani dalam berwirausaha –
dan tentunya dapat cuan dong, Pak.”
Kemudian Guru Alan bertanya lagi.
“Lalu, menurut kalian kita harus bagaimana agar
manfaat tersebut bisa tercapai?”
“Praktik, Pak – melakukan Pak, tidak hanya belajar
materi – diimplementasikan lewat berdagang.”
Setelah melakukan beberapa kali pertanyaan dan
mendiskusikannya, Guru Alan pun menemui tantangan. “Kira-kira, mau nggak ya
mereka melakukannya?”
Kemudian Guru Alan memberi pilihan kepada
murid-muridnya.
“Nah, sekarang kalian bebas memilih ya : melakukan
atau tidak melakukan.”
Setelah memberi pilihan di atas, suasana kelas
mendadak hening. Ada yang tersenyum, ada yang saling menatap antar teman, ada
pula yang tertawa ringan. Lalu Guru Alan pun menawarkan lagi.
“Tadi kan kalian ingin mendapat manfaat setelah
ikut PKK yaitu dengan praktik. Jadi apakah kalian mau melakukannya atau tidak?”
Guru Alan mengajak diskusi murid-muridnya hingga
pada akhirnya mereka menyepakati beberapa hal antara lain : praktik ini
dilakukan secara berkelompok, setiap kelompok terdiri dari 4 murid, jenis
produk bebas – tetapi wajib ada satu produk hasil karya sendiri, di pertemuan
berikutnya – dilakukan wawancara kelompok (semacam obrolan santai), serta
membuat diary.
Aksi yang dilakukan murid-murid selama dua Minggu
pun cukup memuaskan. Mereka menemukan pola pembelajarannya sendiri yaitu
menentukan produk yang akan dibuat, menentukan bahan-bahan yang akan dibeli,
membuat produk (termasuk uji coba), melakukan promosi, penjual secara COD serta
mencatat pengeluaran dan pendapatan.
Terakhir, setelah pembelajaran tersebut cukup
berhasil – Guru Alan melakukan refleksi. Refleksi diambil melalui obrolan
dengan kelompok dan membaca diary mereka. Guru Alan pun mencatat poin penting
antara lain : mereka lebih senang dan merasa tertantang karena langsung praktik
berwirausaha, selain mendapatkan uang – mereka merasakan betapa susahnya
berwirausaha – ternyata tidak mudah mencari uang sendiri, mereka belajar untuk
lebih bersabar- pantang menyerah dan disiplin, lalu mereka menyadari akan
pentingnya sikap kewirausahaan.
Penulis :
@khusnanazilaa dan Ela Supriana
Komentar
Posting Komentar