Mendukung Pengembangan Bakat Anak, Ransel 6 Selenggarakan Webinar Guru dan Orangtua

Mendukung pengembangan bakat anak Bukik Setiawan

Bukik Setiawan dalam Webinar Ransel 6
"Mengembangkan Bakat Anak dengan Pembelajaran Berbasis Proyek"
(24/04/2022) (Dok. Panitia)

Apakah pembelajaran di sekolah sudah mendukung bakat anak? Mengapa yang sering ikut lomba bakat menyanyi dan menggambar hanya anak itu-itu saja? Menjawab pertanyaan tersebut Komunitas Guru Belajar (KGBN) Pekalongan menyelenggarakan Ramadan Semangat Belajar (Ransel) ke-enam pada Minggu (24/04/2022).

Kegiatan ini dilaksanakan secara daring melalui Zoom dan disiarkan secara langsung di Youtube. Peserta dalam acara ini tidak hanya hadir dari Pekalongan. Total 120 peserta yang terdiri dari Guru, Orangtua, Kepala Sekolah, hingga Pengawas Sekolah turut mengikuti acara ini, bahkan juga berasal dari luar daerah.


Webinar ini dibuka langsung oleh Luqman Hakim selaku kepala SMK Muhammadiyah Bligo. Beliau berterima kasih kepada KGBN Pekalongan yang melaksanakan Ransel 6 dan melibatkan SMK Muhammadiyah Bligo sebagai pusat kegiatan daring maupun luring.


Luqman juga menyampaikan “Bahwa manusia bukan sebuah gelas kosong, yang harus selalu diisi, tetapi api yang perlu dinyalakan. Semoga Ransel 6 ini bisa memantik api-api kebaikan yang lain, lahir karya dari guru dan murid-murid yang menjadi peserta.” 


Baca Juga: Ransel 6, Acara Ramadan, Tanpa Perlombaan


Sejalan dengan ungkapan Luqman, Usman Djabbar selaku ketua KGBN yang juga memberikan sambutan, menyampaikan bahwa menyalakan api kebaikan pada anak adalah tantangan. “Mengurus satu orang anak, membutuhkan sekampung orang. Maka guru tidak bisa mendidik anak sendirian.”


Dalam sambutannya Usman juga memberi apresiasi kepada KGBN Pekalongan, “Selain kegiatan yang berpihak pada anak. Keistimewaan acara ini adalah sudah secara konsisten diselenggarakan hingga sekarang sudah Ransel ke enam.”


“Terlebih Ransel 6 ini juga mengadakan webinar dengan topik Mengembangkan Bakat Anak dengan Pembelajaran Berbasis Proyek. Tema ini menunjukkan bahwa Ransel bisa beradaptasi dengan kondisi saat ini.” ungkapnya.


Kenapa bakat anak harus didukung?


Berbicara terkait bakat, narasumber pada webinar kali ini Bukik Setiawan menyebutkan “Bakat sering dilihat kalau anak pandai menyanyi, berarti perlu diikutkan lomba menyanyi. Cara berpikir utama yang diyakini orang-orang, bakat itu adalah menyanyi, menari, menggambar, padahal bakat itu lebih dari itu.”


Bukik yang merupakan Ketua Yayasan Guru Belajar juga menambahkan “Padahal bakat itu adalah kapasitas seorang anak yang penting dikembangkan untuk modal menjalani hidup, berkarier, menjalani hidup yang lebih luas. Jadi bukan sekadar menari, menyanyi dan semacamnya. Masing-masing bakat meskipun sama, bisa berkontribusi dengan cara yang berbeda di tiap anak.”


Bakat bukanlah takdir. Seringkali orangtua cepat puas, menganggap bakat itu suatu anugrah, tidak perlu mengusahakannya. Ketika anak sudah menunjukkan punya bakat tertentu, merasa bangga, dan memamerkannya. Padahal sebenarnya perjalanan bagaimana anak-anak menunjukkan bakatnya saat usia belia, sampai sukses dalam hidupnya perjalanannya masih panjang sekali.


Penting bagi kita menemani anak-anak merawat dan bahkan menemukan bentuk kontribusi yang tepat sebagai kehidupannya, kariernya. Apakah semua anak yang menyanyinya bagus, akan menjadi penyanyi? Tetapi bagaimana berkariernya di masa depan tidak selalu terkunci sebagai penyanyi. 


Bukik juga menjelaskan “Sepanjang yang saya amati dan alami, dalam 20 tahun terakhir, pembelajaran kita berorientasi pada ketuntasan materi sehingga malah tidak mendukung bakat.”


Ini juga diperkuat dengan kebiasaan orang-orang yang membedakan pembelajaran itu dengan menumbuhkembangkan dengan bakat, pembelajaran itu akademik, menumbuhkembangkan bakat anak itu non akademik. “Kalau kita kembali ke konsep ke pemahaman dasar pendidikan, bagaimana anak tumbuh kembang secara utuh, ya lewat pembelajaran, maka tidak dipisahkan pembelajaran yang akademik dan non-akademik.” Ungkap Bukik.


Bagaimana agar pembelajaran di sekolah mampu mendukung bakat anak?


Untuk beberapa kasus, penguasaan bakat butuh sesi khusus. Namun pembelajaran juga punya peran penting. Karena dalam kehidupan sehari-hari anak disibukkan dengan pembelajaran di sekolah. “Lalu bagaimana bentuk pembelajaran yang mendukung bakat anak?” Bu Niken selaku moderator menanyakan.


Menurut Bukik ada beberapa kata kunci, yaitu pembelajaran yang menghubungkan anak dengan lingkungan. “Pembelajaran terkait cara belajarnya, aspirasi, minat dan bakat. Sedangkan lingkungan terdiri dari tantangan yang ada di sekitar lingkungan, sumber belajar, narasumber di lingkungan dan lain sebagainya."




“Tentu akan berbeda bentuk dukungan di suatu daerah, dengan daerah lainnya. Maka kita perlu menerapkan pembelajaran terdiferensiasi, dan pembelajaran berbasis projek.” pungkasnya.


Dari webinar ini kita menemukan, yang menjadi tantangan bagi guru adalah melaksanakannya. Sehingga guru membutuhkan contoh-contoh penerapan yang jelas. Sebagai solusi Bukik bersama Najelaa Shihab dan Penggerak Merdeka Belajar pada 5 April 2022 lalu, baru saja menerbitkan Buku “Merayakan Asesmen, Mendesain Ekosistem Merdeka Belajar”. Buku ini berisi kumpulan praktik asesmen merdeka belajar lintas jenjang pendidikan, termasuk pembelajaran berbasis projek.

Komentar