MGMP IPA & KGBN Pekalongan berkolaborasi, Ulas Penerapan Literasi & Asesmen di Kelas.

Guru dari MGMP IPA & KGBN Pekalongan  (Dok. Panitia)

Pusing dengan rapor merah sekolah dari hasil asesmen pada aspek literasi? Anak-anak malas membaca membuat guru bingung meningkatkan literasi? Hal ini menjadi bahasan utama pada Temu Pendidik Daerah Komunitas Guru Belajar Nusantara (KGBN) Pekalongan (24/09/2022).

Diselenggarakan di MTs. Salafiyah Hidayatul Athfal (Hifal), MGMP IPA bekerja sama dengan KGBN Pekalongan mengundang para guru untuk berbagi dan belajar bersama. Narasumber pertama Pak Ridwan Edi, guru SMK Muhammadiyah Bligo, membuka dengan pertanyaan. "Apa yang Bapak Ibu guru pahami tentang makna literasi?" Bapak Ibu guru yang hadir memaparkan pendapatnya. Narasumber kemudian menyimpulkan bahwa sebagian dari kita menganggap literasi berkutat seputar membaca, padahal literasi lebih dari sekadar membaca.

Seperti Apa Penerapan Literasi di Kelas?

Guru yang akrab disapa Pak Edi ini kemudian menunjukkan contoh-contoh aktivitas literasi yang sudah dilakukan. "Kami di sekolah mengajak murid menganalisis penyebab kecelakaan, dan kemudian memaparkannya di depan. Guru tidak memberi tahu, hanya menjadi fasilitator." Ujar Pak Edi, hal ini jauh lebih efektif dibanding sekadar menasehati anak untuk hati-hati di jalan, karena anak menemukan sendiri, dan bisa menyadari yang perlu dilakukan untuk mencegah kecelakaan.

Kembali memberi contoh. Pak Edi menyampaikan, "Apa jadinya, jika murid-murid yang suka sepak bola, diajak untuk memaparkan analisisnya terhadap pertandingan Indonesia vs Vietnam misalnya? Tentu kelas menjadi ramai, ini juga merupakan proses berliterasi." Literasi tidak harus menjangkau hal-hal yang jauh, bahkan murid pun dapat diajak menuju kantin sekolah, mengidentifikasi jajanan mana yang tidak laku, dan mana yang laris. "Apa penyebab warung di kantin laris/tidak? Anak-anak jadi menduga-duga dan melakukan observasi." Ungkap Pak Edi.

Ragam Asesmen untuk Meningkatkan Kompetensi Murid

Melengkapi pemaparan Pak Edi, Bu Niken Emiria guru SMKN 1 Kajen, menyatakan jika kita sudah memvariasikan strategi pembelajaran, kadang kita masih gemas dengan nilai maupun keseriusan murid mengerjakan tugas. Ia bercerita tantangannya menghadapi murid yang malas dan takut dengan kata ulangan. Namun setelah belajar di KGBN beliau bertaubat sebagai guru yang memberi tugas dan ulangan terlalu banyak.  Kini ia pun menerapkan Asesmen Formatif, dan Asesmen Sumatif sesuai fungsinya.

"Sebagai guru, saya atau bahkan kita, sering memaknai asesmen formatif dan sumatif itu, sebagai hal yang sama. Formatif ulangan harian yang menghasilkan nilai, sumatif juga ulangan, hanya saja letaknya di akhir, keduanya sama-sama berbentuk mengerjakan soal, padahal pemahaman ini salah." Ungkapnya.

Bu Niken bercerita sejak memahami bahwa fungsi asesmen formatif adalah membangun keberlanjutan, memberikan umpan balik pada guru maupun murid, ia pun mengubah bentuk asesmen formatif. "Saya menggunakan emoji, permainan scavenger hunt bahkan membuat lirik lagu berdasar pemahaman. Dan ini bukan untuk nilai rapor, namun untuk mengukur pemahaman sementara murid, sebelum mengikuti asesmen sumatif."


Pada sesi refleksi, Bu Marlina dari MTs. Nurul Islam Pekalongan menyatakan senang belajar di TPD hari ini. "Sebagai guru IPA jadi tercerahkan, media berliterasi itu ada di sekitar kita. Jadi tergerak untuk  semakin bereksplorasi, semoga selanjutnya bisa belajar bersama KGBN Pekalongan lagi," ujar Bu Marlina dengan wajah tersenyum.


Komentar